Akhir Dari Kisah Wabah Dalam Sejarah Manusia

sejarah wabah

Sepanjang sejarah dan peradaban manusia, kisah wabah yang menghancurkan tatanan kehidupan di bumi pada akhirnya juga akan usai. Wabah yang terjadi dalam suatu wilayah menyebar cepat sehingga menjadi pandemi global. Ada beberapa pola penyebaran wabah di suatu wilayah. Umumnya wabah ditularkan oleh seseorang yang telah terinfeksi dan melakukan kontak langsung dengan orang-orang.

Wabah telah menunjukkan kepada kita betapa mengerikannya sebuah pandemi. Kasus kematian akibat wabah membuat kita terpana. Bagi suatu wilayah yang tak siap menghadapi wabah, kuburan massal menjadi tujuan akhir. Sebaliknya, jika sebuah wilayah tanggap dan siaga dalam menghadapi wabah, mereka akan bertahan. Perjuangan melawan wabah akan dimenangkan oleh orang-orang yang mampu bertahan sampai akhir. Sejarah wabah akan terus tercatat bagi para pemenang.

Berikut ini beberapa wabah menakutkan dalam sejarah yang akhirnya dimenangkan oleh manusia.

Wabah Yustinianus

Pada tahun 541-542 M, Konstantinopel (Ibukota Kekaisaran Bizantium) dikejutkan oleh wabah Yustinianus. Penyakit ini disebabkan oleh Yersinia pestis, sebuah organisme yang dapat menyebabkan penyakit pes.

Bagaimana wabah ini pertama kali masuk ke Konstantinopel? Rumor yang berkembang wabah ini dibawa oleh seekor tikus yang telah terinfeksi. Tikus ini berada pada kapal yang mengangkut gandum dari Mesir. Laporan ini dikuatkan oleh Procopius, sejarawan Kekaisaran Bizantium dengan membuat laporan tentang ditemukannya epidemi wabah pertama sekali (tahun 541 M) di Pelabuhan Pelusium, dekat Suez, Mesir.

Wabah ini meyebar cepat seperti api melahap kayu. Dari Konstantinopel, wabah ini bergerak ke seluruh Eropa, Asia, Afrika Utara, dan Arab. Angka kemtian yang tercatat sungguh mencengangkan, yaitu antara 30 hingga 50 juta orang. Barangkali hampir setengah dari populasi dunia pada masa itu.

Baca Juga: Mencegah Corona Dimulai Dari Diri Sendiri

Tatanan kehidupan masyarakat ikut hancur akibat wabah ini. Orang-orang mulai kelaparan. Kebijakan Kaisar Romawi masa itu banyak dikecam karena masih memungut pajak di tengah darurat wabah.

Lalu bagaimana wabah tersebut berakhir? Thomas Mockaitis, profesor sejarah dari Universitas DePaul mengungkapkan bahwa sebagian besar orang yang mampu bertahan hidup dari wabah ini adalah memiliki kekebalan tubuh (imun) yang baik.

Wabah Maut Hitam (Black Death)

Eropa diguncang oleh wabah maut hitam pada abad ke-14. Wabah ini dapat dikategorikan sebagai pandemi regional yang menyerang wilayah-wilayah Eropa. Tentang penyebab wabah ini masih simpang siur. Beberapa ilmuwan meyakini bahwa wabah ini masih ada kaitannya dengan bakteri Yersinia Pestis. Seekor lalat membawa penyakit ini dan saat terjadi kontak dengan tikus rumah, penyakit ini semakin cepat berkembang. Tapi sebagian orang-orang masih meragukan pendapat ini.

Wabah maut hitam atau black death dinamakan sesuai dengan kondisi tubuh yang dialami penderitanya. Hampir sebagian besar penderita menghitam tubuhnya. Namun ada juga beberapa gejala lain yang ditemukan. Seperti adanya benjolan di leher, ketiak, atau paha. Gejala lain yang timbul adalah sesak nafas. Biasanya udara yang terinfeksi dihirup oleh penderita sehingga mereka mengalami kesulitan bernafas.

Angka kematian dari wabah ini juga sungguh mengerikan. Sumber yang tak jelas menyebutkan bahwa wabah ini telah membunuh kurang lebih 200 juta orang. Tapi sebuah sumber lain yang lebih kuat mengatakan bahwa wabah ini telah membunuh hampir setengah dari populasi orang-orang Eropa.

Akibat yang ditimbulkan dari wabah ini juga sangat mengerikan. Tatanan kehidupan masyarakat Eropa menjadi kacau. Orang-orang Eropa mulai memburu dan menganiaya kelompok minoritas seperti kaum Yahudi. Tak hanya itu, para pengemis, biarawan, peziarah, dan orang asing tak luput dari penganiayaan.

Saat wabah maut hitam merajalela di Eropa, di pelabuhan Ragusa (Venesia) mewajibkan setiap pelaut untuk diisolasi selama 30 hari di kapalnya. Apabila pelaut tidak sakit, maka diperbolehkan untuk masuk ke dalam kota. Saat wabah semakin meluas, mereka mengkarantina pelaut sampai 40 hari. Di sinilah proses isolasi atau karantina mulai dikenal. Cara ini diikuti oleh beberapa negara lain dan dianggap mampu menurunkan resiko penularan. Itulah salah satu cara melawan wabah maut hitam.

Wabah Besar London

Sesuai dengan namanya, wabah ini terjadi pada tahun 1665-1666. Tapi sebenarnya wabah ini telah beberapa kali menyerang London. Jika dikalkulasikan, angka kematian juga hampir membunuh setengah dari penduduk London.

Saat terjadinya wabah ini, London telah memberlakukan aturan tentang isolasi diri. Orang-orang yang terjangkit wabah ini diisolasi di tempat khusus dan di rumah masing-masing. Setiap rumah yang mengalami wabah ini ditandai dengan memberikan tumpukan jerami di depan rumah mereka. Wabah ini cukup membuat masyarakat miskin semakin menderita. Akibat isolasi wilayah mereka kesulitan mendapatkan makanan. Sedangkan orang kaya lebih memilih untuk pindah sementara keluar dari London dengan uang yang mereka miliki.

Kucing dan anjing diyakini telah menularkan wabah ini pada manusia. Lalu terjadilah pembantaian besar-besaran terhadap kucing dan anjing. Selanjutnya pemerintah juga menutup kedai-kedai minuman, tempat hiburan, dan keramaian. Isolasi wilayah diberlakukan untuk mengurangi penyebaran wabah. Orang-orang yang terinfeksi diisolasi di rumah sakit khusus. Dan yang mati akan dikuburkan secara massal. Itulah cara-cara mereka melawan wabah London ini yang juga bisa diakhiri.

Cacar

Cacar pernah menjadi wabah menakutkan bagi dunia. Jauh sebelum ditemukan vaksin untuk cacar, wabah ini telah menghantui Eropa, Asia, dan Arab selama berabad-abad. Cacar juga melebarkan sayapnya ke wilayah-wilayah lainnya. Angka kematian yang disebabkan cacar juga sangat tinggi. 3 dari 10 orang yang terinfeksi berakhir dengan kematian.

Baca Juga: Sebuah Perdebatan Tentang Virus

Wabah ini menjadi momok menakutkan bagi Amerika dan Meksiko. Sebagian besar penduduk di sana belum memiliki kekebalan alami atau imunitas tubuh. Beberapa peneliti meyakini bahwa cacar ini telah menyebabkan hampir 90 persen penduduk pribumi meninggal dunia. Namun bagi mereka yang telah sembuh akan meninggalkan bekas luka di tubuhnya. Ancaman cacar pada akhirnya dapat dikalahkan dengan ditemukan vaksin anti cacar. Kini dunia bebas dari wabah cacar mematikan itu.

Kolera

Wabah kolera menjadi pandemi global pada tahun 1817-1824. Di tahun-tahun ini wabah kolera menyerang sebagian besar wilayah Asia. Namun beberapa sumber lain menyebutkan wabah ini juga terjadi di Eropa.

Permasalahan utama dari munculnya wabah ini adalah sanitasi yang buruk. Wabah kolera Asia pertama dilaporkan muncul di India, tepatnya di daerah Sungai Gangga. Di Inggris, John Snow yang merupakan seorang dokter mencurigai bahwa munculnya kolera berasal dari air minum. Dia pun menyelidiki air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat London. Kecurigaannya ternyata benar. Wabah ini berasal dari pompa air minum yang telah terinfeksi. Kemudian penderita kolera berkurang karena pencegahan cepat telah dilakukan.

Angka kematian akibat kolera pun tak terhitung secara pasti. Beberapa catatan menyebutkan wabah ini membunuh puluhan ribu orang di Inggris. Di Bangkok juga tercatat sebanyak 30.000 tewas. Saat wabah menyebar ke Tiongkok, dipastikan ratusan ribu orang meninggal dunia termasuk di dalamnya para prajurit dari Inggris. Di Semarang, pernah dilaporkan sebanyak 1.225 orang meninggal selama jangka waktu 11 hari.

Wabah kolera pada akhirnya juga berkurang dan mampu diatasi pada tahun 1824. Peneliti meyakini bahwa hilangnya kolera karena terjadinya musim dingin yang telah membunuh bakteri dalam suplai air. Tapi beberapa pendapat juga menyebutkan bahwa sistem sanitasi yang baik juga ikut berperan dalam mencegah kolera.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *