ajaran Plato

Ajaran Plato dalam Perkembangan Filsafat Yunani Kuno

Ajaran Plato merupakan manifestasi dari sang guru, Socrates. Plato lahir di Athena pada tahun 427 SM dan meninggal pada usia 81 tahun. Ia menulis Apologia sebagai pembelaan terhadap Socrates di pengadilan saat pengadilan menghukum mati Socrates dengan cara minum racun.

Plato awalnya hanya memahami dan mengembangkan saja ajaran-ajaran Socrates. Saat muda, Plato mengikuti ajaran-ajaran Cratyclus. Karenanya ia percaya bahwa segala sesuatu terkait panca indera sedang berada di dalam keadaan “musnah” atau keadaan “menjadi”. Karena pengaruh Socrates – Plato menyadari – bahwa nilai-nlai kesusilaan terdapat sebagai norma-norma di dalam diri manusia.

Plato melangkah lebih jauh dari sang guru. Lapangan penyelidikannya tidak saja terbatas pada manusia (dengan mencari norma-norma di dalam diri manusia sebagai Socrates), tetapi ia menghendaki pula bahwa filsafat itu bertujuan untuk “menciptakan ilmu pengetahuan”. Yang menjadi objek dari ilmu pengetahuan bukanlah dunia yang berada dalam panca indera. Hal ini seperti yang pemikiran kaum Sofis. Tapi Socrates menegaskan bahwa satu-satunya tujuan dari ilmu pengetahuan seharusnya menentukan hakekat segala sesuatu di dalam pengertian. Jadi pengertian dapat memberikan gambaran dari hakekat segala sesuatu yang tetap dan tidak berubah-ubah. Sebab justru hal itu yang merupakan inti dalam ilmu pengetahuan.

Ajaran Plato mengenai Eidos atau bentuk

Ketika Plato mengembara dari satu tempat ke tempat lain, ia mempelajari teori-teori para pengikut Pythagoras. Hakekat segala sesuatu merupakan wujud nyata di dalam bentuk. Jika seseorang memahami akan suatu bentuk maka ia juga berarti mengenal barangnya. Plato mengembangkan azas ini dalam ilmu pengetahuan. Plato berkata bahwa kita mempunyai kepastian tentang kenyataan, sebab pengertian-pengertian kita itu mengerti benar tentang bentuk yang nyata berubah-ubah.

Persamaan jenis yang terdapat pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk hidup benar-benar berdasarkan suatu kenyataan. “Yang termasuk satu jenis, mengandung bentuk yang sama”. Plato mengerti bahwa yang nyata dari segala sesuatu, baru mempunyai arti bagi kita, kalau kita memiliki bentuk itu di dalam roh kita.

Contoh di dalam ilmu pasti menyebutkan bahwa sifat-sifat dari lingkaran atau bujur sangkar kita kenal tidak karena diajarkan, andai pun tidak diajarkan, kita dapat juga menginsyafinya. Oleh karena sifat-sifat itu memang berupa keharusan-keharusan yang logis. Keinsyafan kita bahwa sifat-sifat itu harus demikian tidak berdasarkan panca indera kita, melainkan berdasarkan satu “penglihatan yang langsung dari dalam diri kita. Dengan demikian, maka postulat (dalil yang tidak memiliki bukti-bukti) pertama yang terdapat pada dalil: “pengertian berupa konbron (sumber atau alat untuk mengenal sesuatu) benar-benar menarik perhatioan Plato. Ia berpendapat bahwa menemukan sesuatu kenyataan itu serupa dengan “melihat” hakekatnya. Pengertian tentang barang sesuatu tidak berdasarkan penangkapan yang berulang-ulang dengan panca indera, melainkan berdasarkan suatu “penglihatan secara langsung”. Pengertian yang demikian adalah gambaran yang murni, yang melukiskan Eidos. Lalu oleh Plato, Eidos ini menjadi Idea.

Ajaran Plato juga menguraikan tentang postulat kedua yang terdapat pada ajaran Socrates. Suatu pendapat terdiri dari pengertian-pengertian yang satu dengan yang lainnya dan memiliki hubungan tertentu. Suatu pendapat adalah benar jika hubungan antara pengertian-pengertiannya sesuai dengan hubungan antara Eide-nya. Andai saja semua Eide kita kumpulkan dengan tidak membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain, maka “semuanya akan campur aduk dengan semuanya” dan keadaan tidak akan nyata lagi. Kalau kita hendak mempertahankan kenyataan, kita harus mengakui bahwa ada Eide yang dapat terkumpul menjadi satu. Namun ada juga yang tidak mengakuinya.

Dialektika

Kedua postulat di atas menegaskan tugas dari filsafat. Tugas pertama adalah mencari dasar-dasar untuk ilmu pengetahuan, yaitu membeda-bedakan Eide dan kedua menggolongkan Eide menurut jenis, jadi dengan demikian dapat menemukan Eide tertinggi yang sudah mengandung Eide lainnya. Pekerjaan seorang ahli filsafat yang sedang melaksanakan tugas tadi adalah dialektika.

Plato melatih murid-muridnya untuk menguraikan dan menggolong-golongkan Eide. “Menggolong-golongkan manusia di dalam orang-orang Yunani, atau membagi-bagi bilangan di dalam yang kurang dan yang lebih dari 10.000, itu bukan cara yang dipergunakan di dalam ilmu pengetahuan. Yang sewajarnya ialah menggolong-golongkan segala sesuatu di alam ini kepada jenis laki-laki maupun perempuan, dan menggolongkan bilangan yang genap dan ganjil.”

Baca Juga: Sekilas Tentang Filsafat Yunani Kuno

Logika ini mempunyai suatu keistimewaan yang berhubungan dengan sisi penting dari tugas filsafat, yaitu menguraikan Eidos sendiri. Eidos sama sekali berlainan dari pengertian “keluarga” atau “jenis” yang kita peroleh dengan panca indera. Tetapi dengan mempergunakan “pengertian”, kita memperoleh gambaran yang seterenag-terangnya dari Eidos. “Kita dapat mendekati dan melihat Eidos langsung dengan roh kita,” demikian kata Plato.

Pengetahuan manusia mempunyai sifat-sifat ajaib dan sifat ajaib ini tersimpan di dalam diri manusia. Kalau kita mengetahui sesuatu, seakan-akan kita dengan tiba-tiba ingat lagi akan sesuatu yang sudah pernah kita ketahui pada masa lampau, tetapi yang sudah kita lupakan, karena kebiasaan kita untuk hidup berpanca indera.

Filsafat berusaha untuk menghilangkan kepercayaan jiwa kepada panca indera dengan maksud untuk mengejar mata jiwa untuk menengadah. Dengan menengadah ini, mula-mula jiwa akan curiga terhadap sifat-sifat yang berlawanan. Misalnya penyebutan terhadap barang itu besar dan kecil. satu dan banyak, ringan dan berat. Maka sudah barang tentu bahwa keadaan yang demikian, yang bertentangan dengan “logika” tidak dapat menjadi kenyataan. Ajaran Plato mengatakan bahwa banyak dan satu atau besar dan kecil adalah struktur-struktur yang menentukan sifat.

“Yang besar” tidak mengandung “yang kecil”. Begitu juga “yang genap” tidak mengikhlaskan adanya “yang ganjil”. Jiwa harus belajar melihat bahwa struktur-struktur demikian yang merupakan Eide, menjadi dasar dari segala macam bentuk yang ada. Pendidikan yang diberikan kepada jiwa melalui jalan-jalan yang juga dipergunakan oleh ilmu-ilmu pengetahuan, seperti ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu falak, dan musik. Ilmu-ilmu pengetahuan ini tidak dipergunakan untuk mengajar orang cara menggambarkan sifat Ada dari struktur-struktur yang tak berubah-ubah. Kalau jiwa sudah terbiasa akan hal itu, maka sudahlah tercapai syarat untuk dapat menengadah dan melihat Eidos di dalam bentuk yang sebenarnya.

Pada gambaran yang tampak itu, yang murni merupakan Idea, barulah orang melihat kenyataan. Maka dari itu, dialektika yang berusaha menguraikan Eide, bukanlah semata-mata suatu tes yang logis terhadap pengertian-pengertian kita, tetapi dialektika mempunyai sifat noetisch, artinya Eide bukanlah pengertian yang berdasarkan putusan akal, tetapi Eide kita alami sebagai Idea; hakekat yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera, dapat dialami secara langsung oleh jiwa, karena jiwa mempunyai penglihatan “yang sedalam-dalamnya”. Juga hubungan Eide antara yang satu dengan yang lain lebih dapat dialami secara langsung dari pada dimengerti secara logis. Di dalam Idea kita dapat melihat mengapa Eidos merupakan alasan yang sebenarnya dari adanya barang sesuatu, yaitu karena Eidos mengandung sifat Ada “sedalam-dalamnya”.

Mengenai “yang satu” oleh Plato megatakan bahwa “yang satu” itu yang dapat kita “lihat” sebagai dasar dari segala sesuatu, bukanlah suatu atraksi, melainkan kenyataan yang sebenarnya. Marilah kita lihat apa yang dalam bilangan! Di alam semesta ini, terdapat suatu keajaiban yang berdasarkan bilangan. Keajaiban itu ialah bahwa dari kejamakan tercipta kesatuan-kesatuan organis (hidup). Andaikata keajaiban itu tidak ada, niscaya dunia akan berupa suatu chaos (campuran yang sama sekali tak teratur) dari atom-atom. Sedangkan atom-atom ini juga tidak akan menunjukkan adanya kesatuan-kesatuan.

Yang sama, yang lain, dan gerakan

Sudah terang bahwa bilangan sebagai Eidos tidak mempunyai kekurangan-kekurangan untuk menunjukkan alasan-alasan yang menjadi dasar Adanya alam semesta. Gerakan sempurna yang sesuai dengan “yang Sama” tersebut pada gerakan melingkar dari angkasa raya dengan bintangnya. Planet-planet mengitari angkasa ini. Matahari dan planet-planet berdiri condong terhadap angkasa, dan berupa campuran-campuran dari “yang Sama” dan “yang Lain”. Untuk memperlihatkan luasnya bumi, Plato mempersamakan “kebendaan” dengan “ruang” yang dapat memberi tempat kepada kesatuan-kesatuan dan bentuk bilangan.

Dari ajaran Plato, yang nilainya paling tinggi ialah ajarannya mengenai tata susila. Di dalam sebuah karangannya, Plato menyamakan manusia dengan penghuni-penghuni gua yang menganggap bayang-bayang sebagai kenyataan. Setelah manusia terbebas dari kebodohan, barulah mereka menyadari bagaimana kedudukan matahari dan planet-planet di alam semesta ini. Matahari sebagai pusat tata surya telah memberikan kehidupan di alam semesta, begitu juga dengan Idea (gambaran murni) dari kebaikan yang telah memberi kekuatan kepada segala sesuatu.

Tentang keindahan

Kehausan akan cinta mendorong jiwa untuk naik dari keindahan yang satu ke keindahan yang lebih tinggi dan seterusnya sampai pada puncak keindahan. Ini adalah suatu keindahan abadi yang mempunyai sifat tersendiri dan tidak serupa dengan barang sesuatu lain. Keindahan yang tertinggi kebaikannya, keindahannya dan kebenaran menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya nilai segala sesuatu. Plato menganggap bahwa keindahan tertinggi adalah Tuhan karena zatnya yang berupa kebaikan menyerupai Tuhan.

Ajaran Plato mengenai negara

Inti sebenarnya dari semua kebenaran adalah norma kesusilaannya. Segala sesuatu yang ingin mencapai tujuannya yang sebenarnya, setidak-tidaknya harus lebih dahulu berbuat kebaikan yang sempurna. Dalam hal ini sama juga seperti kenegaraan. Negara dan masyarakat berkewajiban untuk menyelenggarakan tatanya ke arah kebaikan.

Plato menggambarkan suatu negara yang dipimpin oleh ahli-ahli filsafat; prinsip milik bersama olehnya dikembangkan seluas-luasnya demi kepentingan “penjaga-penjaga” negara. Bagi manusia, kesusilaan tertinggi terletak di dalam usaha untuk “menyerupai Tuhan”. Tidak ada orang lain yang lebih menyerupai Tuhan daripada ia yang bertindak seadil-adilnya. Adapun adil adalah seseorang yang pikiran dan perbuatannya tunduk kepada harmoni yang menciptakan kebaikan dan keindahan di dalam jiwa. Yang dinamakan ahli filsafat adalah seseorang yang memahami tentang “musik kenyataan”.

Oleh karena Tuhan itu baik, maka tidak benarlah kalau dikatakan bahwa Tuhan menjadi sebab segala sesuatu (termasuk keburukan dan lain-lain). Musabab dari keburukan haruslah suatu hal yang bukan Tuhan. Plato mengemukakan bahwa sebab dari keburukan adalah sesuatu yang juga menjadi sebab dari adanya kebendaan. Juga pada manusia, berakar pada kejasmaniannya. Kalau seseorang menyerahkan pada keburukan, dan mengabaikan adanya yang sehat, maka padanya timbul sesuatu yang dinamakan kesalahan. Keburukan manusia berasal dari ketidaktahuan. Tak ada seorang pun menjadi buruk karena kehendaknya sendiri; sebabnya ialah karena keadaan badan yang tidak sehat dan santapan rohani yang tidak bernilai.

Tinggalkan Balasan