Ajaran Confucius

Ajaran Confucius dalam Filsafat Tiongkok Klasik

Ajaran Confucius lebih mengutamakan tentang etika dan kemanusiaan. Ajaran-ajarannya menjadi tonggak bagi bangkitnya kejayaan filsafat Tiongkok kuno. Confucius memiliki nama latin sebagai K’ung Fu Tse atau Kong Qui. Nama kecilnya adalah Tsy’. Setelah dewasa namanya menjadi Tsyung-ni. Menurut cerita, ia adalah keturunan dari keluarga bangsawan yang jatuh miskin. Ayahnya meninggal dunia saat ia lahir. Ibunya tinggal dalam keadaan miskin sekali. Ia menikah pada umur 19 tahun dan mempunyai dua orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Ketika Confucius berusia 22 tahun, ia mendirikan sebuah sekolah. Dalam waktu yang singkat, sekolah itu mampu menampung banyak siswa.

Confucius merupakan seorang pembaharu sosial yang konservatif. Ia bukanlah seorang guru agama. Tapi ia menganggap permasalahan agama perlu, walaupun ia tidak pernah membahasnya secara mendalam. Tze-lu pernah bertanya kepadanya tentang pemujaan roh-roh. Apa jawaban Confucius? Ia menjawab bahwa jika saja orang belum bisa mengabdi kepada manusia, bagaimana kiranya ia dapat mengabdi kepada roh-roh. Lalu Tze-lu bertanya tentang kematian, Confucius menjawab jika kamu belum mengenal tentang kehidupan, bagaimana kamu akan tahu tentang kematian? Dari dialog tersebut Confucius menganggap bahwa ritual itu penting bagi keagamaan dan juga ritual dalam kehidupan sosial.

Ajaran Confucius juga menentang perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masa hidupnya. Perubahan-perubahan sosial itu menjadi sebuah kemunduran. Hal ini juga mendapat pengakuan dari golongan ksatria. Confucius menyatakan bahwa untuk perbaikan tersebut adalah dengan cara mengubah keadaan sedemikian rupa, sehingga batas-batas hak dan status tiap-tiap orang sesuai dengan apa yang sudah dikodratkan oleh alam.

Beberapa Ajaran Confucius

Confucius pernah mengatakan: hendaknya raja tetaplah raja, hamba tetaplah hamba, ayah tetaplah ayah dan anak tetaplah anak. Jika sikap tiap-tiap orang sesuai dengan statusnya, maka terjaminlah perbandingan yang seharusnya terjadi antara atas dan bawah. Maka akan terciptalah pemerintahan yang baik. Kritik atas pemerintahan ini dalam ajaran Confusius dikenal dengan i, yang bisa diterjemahkan sebagai keadilan.

Perkataan lain yang banyak menjadi acuan dalam ajaran Confusius adalah te, yang artinya kebajikan. Selain itu te juga menyangkut dengan taat terhadap tata tertib dan aturan dari istana serta berperilaku sebagaimana mestinya.

Baca Juga: Memahami Filsafat Tiongkok Kuno

te merupakan sifat khusus dari diri seseorang di dalam statusnya yang ditentukan oleh i dan ditunjukkan dengan bentuk-bentuk li. Mula-mula arti te ini, hanya kebajikan pada umumnya. Tetapi artinya meluas hingga dapat berarti “membenarkan nama-nama”, yang memungkinkan orang-orang untuk melakukan i-nya dan mengindahkan li-nya untuk dapat melaksanakan tata susila dan ketertiban alam. Oleh karena itu hendaklah sang Raja menjalankan te-nya agar dapat memancarkan pengaruhnya.

Ajaran Confucius mengatakan bahwa kekuasaan berakar pada sifat mistis magis yang hanya dimiliki oleh seorang raja. “Barangsiapa yang memerintah berdasarkan kebajikan dapat diibaratkan dengan bintang kutub, karena bintang ini tepat pada tempatnya dan bintang-bintang lain tunduk kepadanya.” Selain itu Confucius juga mengatakan, “kebajikan raja sama dengan angin, kebajikan rakyat biasa sama dengan rumput. Rumput akan tunduk kalau angin menyentuhnya.”

Confucius juga mengartikan te dengan kebajikan dalam arti kesusilaan kepada raja dan orang-orang bangsawan, lalu kepada semuanya. Kebesaran Confucius adalah bahwa ia yang pertama-tama mengharuskan adanya syarat yang etis guna perbaikan hubungan antara manusia dengan manusia.

Ajaran tentang Jen

Tze-kung bertanya: “Apakah suatu perkataan yang dapat menuntun kita di dalam penghidupan kita seterusnya?” Sang guru berkata: “Pertimbangkanlah selalu keadaan orang lain. Janganlah melakukan sesuatu pada orang lain yang tidak kita inginkan sendiri.” Inilah yang dinamakan dengan jen, yang artinya (lebih mendekat) perikemanusiaan, kebaikan orang, humanitas, dengan tidak meninggalkan etimologi perkataan sendiri.

Mencius, murid Confucius selalu menyebut jen bersama-sama dengan i, seakan-akan perkataan ini hampir merupakan sinonimnya. Sesungguhnya jen itu sendiri adalah hal yang melengkapi i, terutama berhubungan dengan kewajiban bawahan terhadap atasan. Dan jen terutama berhubungan dengan tanggung jawab atasan terhadap bawahannya.

Sang guru berkata: “Hanya orang yang mempunyai perikemanusiaan, dapat mencintai orang lain dan dapat juga membenci orang-orang lain.” Menurut ajaran Confucius, bukan hal itu saja yang menjadi pegangan di dalam menentukan sikap seseorang. Lebih lanjut sang guru berkata: “Janganlah menengok kepada sesuatu yang bukan li, janganlah mendengarkan barang sesuatu yang bukan li, janganlah bergerak selain untuk li.”

Ajaran tentang Sjiau

Ajaran Confucius mengemukakan bahwa bentuk-bentuk yang penting dari kebajikan adalah kesetiaan dan kewajiban. Kesetiaan menjadi dogma bagi penyewa tanah terhadap tuannya (sistem feodal pada zaman dulu). Sedangkan kewajiban berarti tunduknya seorang anak terhadap ayahnya, begitu juga berlaku kepada orang muda tunduk kepada yang lebih tua.

Menjalankan kewajiban sebagai seorang anak (sjiau) menjadi hal yang lebih utama setelah sistem feodal hilang. Menurut sosiologi, sjiau berarti “pengluasan kekuasaan ayah” yang betul-betul mencerminkan corak kebudayaan Tiongkok. Seorang anak juga harus menunjukkan sjiau-nya terhadap ibunya. Lebih lanjut, sjiau merupakan penghormatan kepada orang-orang tua dan tunduk kepada yang berkuasa. Sistem kekeluargaan di Tiongkok berdasarkan sjiau yang mengandung didikan untuk tunduk kepada golongan dan mengandung pengertian etis yang bernilai tinggi, yaitu perasaan terikat kepada orang-orang yang menurunkan. Inilah yang menyebabkan kuatnya kebudayaan Tiongkok. Pengertian tersebut meresap sedalam-dalamnya di dalam hati sanubari rakyat Tiongkok seluruhnya yang struktur sosialnya berdasarkan kekeluargaan.

Itulah beberapa gambaran dari ajaran Confucius. Ajaran Confucius di Indonesia juga mendapat perhatian dari masyarakat minoritas. Ajaran ini bernama Kong Hu cu dan memiliki penganut dan menjadi salah satu agama yang mendapat pengakuan dari Negara Indonesia.

Tinggalkan Balasan